B. Arab

Pertanyaan

Jelaskan tentang keluarga Anathapindika!

1 Jawaban

  • Anathapindika

    Anathapindika dilahirkan di Savatthi. Ayahnya seorang jutawan yang bernama Sumana. Nama sebenarnya adalah Sudatta, tetapi karena kedermawannya dan selalu bersedia menolong orang yang melarat, maka ia diberi nama Anathapindika yang berarti “Pemberi makan orang yang melarat”. Istrinya bernama Punnalakkhana, kakak dari seorang jutawan di Rajagaha dan mempunyai seorang putra bernama Kala, serta tiga orang putri bernama Mahasubhadda, Culasubhadda, dan Sumana.

    Pada suatu hari Sang Buddha tiba di hutan Sitavana dalam perjalanan dari Kapilavatthu ke Rajagaha. Di tempat inilah untuk pertama kali anathapindika bertemu dengan Sang Buddha, waktu Anathapindika berkunjung ke Rajagaha untuk urusan dagang. Di rumah kakak iparnya di Rajagaha, ia melihat bahwa jutawan dari Rajagaha ini sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Demikian mewahnya hidangan yang sedang disiapkan, sehingga ia berpikir barangkali ada pesta pernikahan atau mungkin untuk menerima kedatangan seorang Raja. Setelah diberitahu bahwa semua hidangan itu disiapkan untuk menerima kedatangan Sang Buddha, maka timbul hasrat dalam dirinya untuk mengunjungi Sang Buddha.

    Ia bermaksud untuk mengunjungi Sang Buddha pagi-pagi sekali keesokan harinya. Memikirkan kunjungan ini membuat Anathapindika demikian tegang, sehingga malam itu ia terbangun sampai tiga kali dari tidurnya. Waktu ia berangkat ke Sitavana, hari masih gelap. Ketika hendak melintasi tanah pekuburan, hatinya merasa takut sekali sehingga ia menggigil. Tetapi kepercayaannya terhadap Sang Buddha demikian kuat, sehingga dari tubuhnya keluar cahaya yang menerangi jalan yang harus dilaluinya. Lagipula seorang makhluk halus (yakkha) bernama Sivaka yang baik hati memberi ia semangat, sehingga akhirnya tibalah Anathapandika di Sitavana. Pada waktu itu Sang Buddha sedang jalan hilir mudik sambil menghirup udara pagi hari yang segar.Sang Buddha menyapanya dengan memanggil nama pribadinya. Kemudian Sang Buddha memberikan uraian Dhamma yang membuat Anathapindika menjadi seorang Sotapanna.

    Waktu mau pamitan pulang, Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk keesokan harinya makan siang di rumahnya.

    Setiba di rumahnya, Anathapindika sibuk mempersiapkan sendiri semua kebutuhan untuk keesokan harinya dan menolak tawaran kakak iparnya dan Raja Bimbisara yang ingin membantunya. Selesai makan siang yang ia layani sendiri, Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk ber-vassa (istirahat musim hujan) di Savatthi. Sang Buddha menerimanya dengan mengatakan, “Para Tathagata, oh kepala keluarga, menyukai tempat yang sunyi.”

    “Saya mengerti, oh Bhagava, saya mengerti, Sugata,” jawab Anathapindika.

    Setelah menyelesaikan urusan dagangnya di Rajagaha, Anathapindika pulang ke Savatthi. Sepanjang jalan dari Rajagaha ke Savatthi, ia meninggalkan pesan kepada sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya agar menyiapkan tempat tinggal, taman-taman, rumah-rumah untuk istirahat dan hadiah-hadiah dalam rangka menyambut kunjungan Sang Buddha ke Savatthi.

    Mengetahui bahwa Sang Buddha menerima tawaran untuk ber-vassa di Savatthi, maka setibanya di Savatthi, Anathapindika mencari sebidang tanah yang luas dan sunyi untuk membuat tempat tinggal bagi Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Ia ingat kepada taman Pangeran Jeta yang memenuhi syarat yang dikemukakan Sang Buddha. Ia menghubungi Pangeran Jeta dan mengutarakan maksudnya untuk membeli tanah tersebut bagi tempat tinggal Sang Buddha dan para pengikut-Nya. Tetapi Pangeran Jeta menjawab bahwa tamannya tidak dijual, meskipun Anathapindika sanggup membayar sepuluh juta uang emas. Karena Anathapindika terus mendesak, maka akhirnya ia setuju menjual tamannya asalkan saja Anathapindika sanggup menutupi taman tersebut dengan uang emas.

    Dengan tanpa pikir panjang, Anathapindika segera menyuruh pelayannya untuk mengeluarkan uang emas dari gudang hartanya dan menutupi taman dengan mata uang emas. Tetapi menjelang semua tanah akan tertutup dengan mata uang emas, tiba-tiba Pangeran Jeta datang dan meminta agar sisa tanah yang belum tertutup uang emas dianggap sebagai sumbangan Pangeran Jeta kepada Sang Buddha. Setelah itu Anathapindika memerintahkan untuk membuat sebuah vihara yang besar dan megah dengan biaya yang besar sekali.

    Dikisahkan bahwa Sang Buddha berada di vihara Jetavanarama tersebut selama sembilan belas vassa, khususnya pada waktu Beliau sudah berusia lanjut dan vihara inilah Sang Buddha memberikan khotbah-Nya yang terbanyak.

Pertanyaan Lainnya